Benteng Siantar

6 Fakta Cekcok Berujung Maut Menewaskan Seorang Buruh Tani di Purba

Jenazah Plores Panjaitan saat hendak diotopsi di Instalasi Jenazah RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar, Kamis (2/7/2020).

SIANTAR, BENTENGSIANTAR.com– Polisi telah mengungkap sejumlah fakta kasus perkelahian berdarah yang menewaskan seorang buruh tani di Dusun Bandar Mariah, Nagori Bandar Sauhur, Kecamatan Purba, Simalungun, Rabu (1/7/2020) sore sekira pukul 16.45 WIB. Kini, tersangka Hermanto Pakpahan (35) telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Simalungun guna proses hukum lebih lanjut.

“Hermanto telah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan untuk diproses hukum lebih lanjut,” kata Kapolsek Purba Iptu Marolop Sinaga, Kamis (2/7/2020).

Anggiat Gultom (kaos lengan merah), rekan korban yang melihat langsung perkelahian berdarah yang menewaskan temannya Plores Panjaitan di di Dusun Bandar Mariah, Nagori Bandar Sauhur, Kecamatan Purba.

1. Merasa Dilecehkan

Menurut keterangan saksi mata Anggiat Gultom (20), sebelum kejadian, ia bersama Plores Panjaitan (36) sedang asyik menonton youtube di samping rumah korban. Saat itu, keduanya tertawa saat melihat aksi Sule saat melucu di youtube yang ada di handphone milik Plores Panjaitan.

Tanpa mereka sadari, Hermanto Pakpahan ternyata tersinggung saat melihat Plores dan Anggiat sedang tertawa-tawa. Dia mengira sedang ditertawai.

Merasa dilecehkan, Hermanto kemudian menemui Plores dan Anggiat. Dia tak terima dan memaki-maki Plores dan Anggiat.

BacaCekcok Mulut Berujung Maut di Bandar Sauhur Purba, Buruh Tani Ditikam Tetangga

Saat itu, Plores begitu juga Anggiat memilih diam. Ternyata, sikap diam Plores dan Anggiat membuat Hermanto semakin emosi.

Sekadar diketahui, antara korban dan pelaku kebetulan masih bertetangga di Dusun Bandar Mariah. Rumah mereka hanya dipisahkan jalan utama di desa itu. 

2. Ditikam Pakai Tumbuk Lada

Lalu, pelaku kembali ke rumah dan mengambil tumbuk lada miliknya. Saat itu, istri pelaku Maharani Malau (34) berusaha menghalangi Hermanto agar mengurungkan niatnya.

Tapi, Hermanto tetap melangkah dan bertindak nekat. Dia pun kembali menemui tetangganya itu. Dan terjadilah cekcok mulut antara keduanya. Melihat itu, istri pelaku Maharani berusaha melerai.

Sementara, Plores yang tidak terima dimaki kemudian menyerang Hermanto. Kayu yang ada di genggamannya diayunkan hingga mengenai kepala Hermanto.

Tak terima, Hermanto melayangkan serangan balik. Dia kejar Plores kemudian menyarangkan tumbuk lada miliknya tepat di dada korban. Akibat serangan senjata tajam itu, Plores pun roboh seketika.

Setelah melihat Plores tidak berdaya, pelaku kemudian pergi meninggalkan lokasi dan segera melarikan diri. Sementara, belati yang ia gunakan menghabisi nyawa korban dibuang di semak-semak dekat tiang PLN, sekira 100 meter dari lokasi kejadian.

Sekadar tahu bahwa Tumbuk Lada merupakan senjata tradisional khas Karo dan Melayu di pesisir Sumatera Timur, khususnya Melayu Langkat, Melayu Deli, dan Melayu Serdang. Tumbuk lada berbentuk pisau yang umumnya terbuat dari bahan logam kuningan yang bersifat racun dan digunakan untuk pertarungan jarak dekat.

3. Pulang Minum Tuak

Sementara itu, Hermanto Pakpahan kepada polisi, sebelum kejadian pembunuhan, dia baru saja mengonsumsi tuak (minuman beralkohol, red) di sekitaran Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Simalungun.

Dalam pengaruh minuman keras, dia pun kembali ke kampungnya di Dusun Bandar Mariah, Nagori Bandar Sauhur, Kecamatan Purba. Sesampainya di kampung, dia langsung pulang ke rumah.

BacaNekat Membunuh Karena Cemburu, Korban Diduga Sering Candain Istri Pelaku?

Nah, saat sedang berada di rumah, dia melihat Plores sedang tertawa dengan seorang temannya. Dia pun merasa tersinggung karena mengira sedang ditertawakan.

“Saya tersinggung, pak,” katanya singkat.

4. Pisau Kena ke Jantung

Tim Forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar sudah selesai melakukan otopsi terhadap korban pembunuhan Plores Panjaitan, Kamis (2/7/2020) siang.

Kepala Forensik dr Reinhard Hutahaean memastikan, penyebab utama kematian pria berusia 36 tahun tersebut karena terkena tusukan di dada sebelah kiri.

“Satu tusukan di dada sebelah kiri. Kena ke jantung,” kata Reinhard, saat dihubungi BENTENG SIANTAR, lewat telepon seluler.

5. Buruh Tani

Menurut keterangan salahseorang warga Hotman Saragih (48), baik korban Plores Panjaitan maupun Hermanto Pakpahan kesehariannya sama-sama bekerja sebagai buruh tani. Menurut Hotman, keduanya merupakan pendatang di Dusun Bandar Mariah dan bekerja mencari upahan di ladang-ladang jeruk milik warga.

Hotman menuturkan, Hermanto Pakpahan tinggal bersama istrinya Maharani Malau. Sementara, Plores diketahui tinggal seorang diri.

“Di sini, dia (korban) tinggal seorang diri. Kami tidak tahu di mana keluarganya,” ujar Hotman, ketika dikonfirmasi BENTENG SIANTAR.

BacaDuka di Tengah Badai Corona, Seorang Petani Simalungun Meninggal Disambar Petir

Namun belakangan ini, Plores diketahui bekerja di ladang jeruk milik Anderson Sinaga. Pekerjaannya beragam, mulai dari menanam, perawatan hingga panen jeruk.

“Sosok orangnya baik. Kita sangat menyesalkan perbuatan pelaku,” pungkas Hotman.

6. Perantau Asal Labuhanbatu

Menurut informasi dihimpun BENTENG SIANTAR, Plores Panjaitan selama ini sudah melanglang buana ke sejumlah tempat. Sebelum menetap di Dusun Bandar Mariah, Nagori Bandar Sauhur, Kecamatan Purba, Simalungun, Plores sempat beberapa saat tinggal di seputaran Berastagi, Kabupaten Karo.

Selama berada di Bandar Mariah, Plores tinggal seorang diri. Sementara, keluarganya berada di Sigambal, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu.

Baca: Cekdam Urung Purba Makan Korban, Pemancing Jatuh dari Rakit dan Tenggelam

Itu sebabnya, jenazah korban Plores Panjaitan begitu selesai otopsi di Instalasi Jenazah Rumah Sakit dr Djasamen Saragih Siantar, tidak dibawa kembali ke Bandar Mariah, melainkan ke Labuhanbatu.

“Jenazah Plores sudah dijemput keluarganya dan dibawa ke rumah duka di Labuhan Batu,” pungkas Reinhard.