Benteng Siantar

Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Kelapa di Silau Bayu, Indikasi Mark Up Harga 300 Persen

Pangulu Silau Bayu, Sahlan Sinaga (insert). Latar: Kantor Pangulu Nagori Silau Bayu, Kecamatan Gunung Maligas, Simalungun.

GUNUNG MALIGAS, BENTENGSIANTAR.com– Selain perbaikan infrastruktur jalan desa, Pemerintah Nagori Silau Bayu, Kecamatan Gunung Maligas, Simalungun, pada Tahun Anggaran (TA) 2023, juga memberdayakan masyarakat untuk peningkatan produksi tanaman pangan.

Program itu diberi nama pemberdayaan masyarakat desa peningkatan produksi tanaman pangan. Dalam program tersebut, Pemerintah Nagori Silau Bayu menyalurkan bantuan bibit kelapa dan pupuk urea. Anggaran bersumber dari Dana Desa (DD) TA 2023 senilai Rp103.779.440.

Pangulu Nagori Silau Bayu, Sahlan Sinaga membenarkan program pemberian bantuan bibit kelapa dan pupuk tersebut. Masing-masing kepala keluarga (KK) menerima bibit kelapa 1 pokok dan pupuk urea 4 kg.

Dia menyebutkan, jumlah keseluruhan masyarakat penerima bantuan sebanyak 650 KK. Mereka tersebar di Huta I Silau Bayu, Huta II Pondok Laras, dan Huta III Silau Bayu.

“Semuanya sudah kita bagi,” kata Sahlan Sinaga, ketika ditemui BENTENG SIANTAR, baru-baru ini.

Namun, awak media ini tidak begitu saja langsung percaya. Apalagi jika melihat antara besaran anggaran dibanding dengan realisasi bantuan bibit dan pupuk, patut diduga ada yang tidak beres.

Ditambah dari hasil investigasi BENTENG SIANTAR di Huta I Silau Bayu, Huta II Pondok Laras, dan Huta III Silau Bayu, menurut pengakuan warga, pembagian pupuk urea tidak merata. Ada yang bilang hanya menerima 1 kg, 2 kg, dan sebagian yang lain mengaku menerima 3 kg.

“Ya bang, kami memang ada menerima bantuan bibit kelapa. Sekalian sama pupuknya, bang. Kalau kami bilang, ini namanya kelapa sayur bang,” kata salahseorang warga Huta III Silau Bayu, sembari menunjuk bibit kelapa yang mereka tanam di belakang rumah.

Namun, soal pembagian tidak merata itu langsung dibantah Pangulu Sahlan Sinaga. Dia pun balik bertanya.

“Siapa namanya? Tolong pak Gamot (kepala dusun, red) dicek itu,” kata Sahlan dengan nada ketus ke Gamot Huta III, Samirin, di sebelahnya.

Kantor Pangulu Nagori Silau Bayu, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun. Foto diabadikan belum lama ini.

Rasa penasaran awak media pun berlanjut. Masih penasaran karena mengetahui besaran anggaran senilai Rp103 juta, tapi hanya untuk merealisasi bantuan satu pokok bibit kelapa dan 4 kg pupuk urea, ke masing-masing kepala keluarga di Silau Bayu.

BacaOknum Perangkat Desa di Talang Bayu Simalungun, 6 Bulan Lebih Tidak Masuk Kerja tapi Gaji Tetap Dibayar, Kok Bisa?

BacaProyek Jalan Lapen Senilai Rp127 Juta di Silau Bayu Diyakini Asal Jadi, Baru Dikerjakan Sudah Mrotol

Maka, muncul pertanyaan, bibit kelapa itu jenis apa, berapa harganya? Rasa penasaran itu juga terhadap pupuk, apakah urea itu bersubsidi atau non subsidi?

Halaman Selanjutnya >>>

Harga Rp100 Ribu

Harga Rp100 Ribu

Melihat awak media BENTENG SIANTAR mengernyitkan kening, Sahlan Sinaga berusaha menjelaskan, kalau bibit kelapa yang dibagikan ke warga itu, bukanlah bibit biasa.

Melainkan bibit kelapa hibrida. Kelapa berkualitas unggul, masa produktifnya singkat, pohon yang pendek, dan buah yang lebat.

“Tiga tahun sudah berbuah,” kata Sahlan, berusaha meyakinkan.

“Harga Rp100 ribu (termasuk pajak),” sambungnya.

Lalu, mengenai pupuk urea, Sahlan mengungkapkan, pupuk bantuan merupakan non subsidi. Mereka membeli sebanyak 56 sak, seharga Rp615 ribu per sak.

Lalu, ketika ditanya apakah harga sebesar Rp100 ribu per pokok itu, tidak kemahalan untuk bibit kelapa? Kali ini, Sahlan sempat terdiam.

Bibit kelapa hibrida bantuan dari Pemerintahan Nagori Silau Bayu. Foto ini dijepret dari belakang rumah warga Huta III, Nagori Silau Bayu, belum lama ini.

BacaProyek Irigasi Ambruk di Nagori Bosar Bayu, Padahal Baru Dibangun

BacaProyek Jalan Lapen Senilai Rp127 Juta di Silau Bayu Diyakini Asal Jadi, Baru Dikerjakan Sudah Mrotol

Tapi kemudian, dia menyampaikan bahwa pengadaan bibit kelapa hibrida dan pupuk merupakan program Pemerintah Nagori Silau Bayu dan dirumuskan lewat musyawarah masyarakat nagori. Sahlan mengklaim jika bibit kelapa hibrida itu adalah kebutuhan warga.

“Ada berita acaranya,” tandas Sahlan.

Halaman Selanjutnya >>>

Terlalu Mahal

Halaman Sebelumnya <<<

Terlalu Mahal

Dia juga menyampaikan, sebelum mereka, Nagori Huta Dipar, Kecamatan Gunung Maligas, sudah lebih dulu melakukan program serupa. Bahkan, kelapa hibrida mereka sudah berbuah.

“Jadi, kita bukan yang pertama,” katanya lagi.

Dari penjelasan Pangulu Sahlan Sinaga itu, maka perkiraan anggaran dana untuk pengadaan bibit kelapa hibrida adalah senilai Rp65 juta.

Angka itu diperoleh dari perkalian jumlah penerima bantuan sebanyak 650 KK, dengan harga pembelian bibit kelapa hibrida sebesar Rp100.000 per pokok.

Kemudian, anggaran dana untuk pengadaan pupuk urea senilai Rp34.440.000. Sebanyak 56 sak dikali Rp615 ribu per sak. Maka, total anggaran untuk pengadaan bibit kelapa hibrida dan pembelian pupuk urea sebesar Rp99.440.000.

Pangulu Silau Bayu, Sahlan Sinaga. Latar: Kantor Pangulu Nagori Silau Bayu dan bibit kelapa hibrida bantuan untuk warga desa.

BacaSetoran Wajib 20 Persen ke Kacab Disdik, Betul Atau Tidak? Mariani Samosir: ‘Ndang Diida Mata Diida Roha’

BacaDugaan Korupsi Pengadaan Bibit Lele, Camat Lapor ke Walikota

Terdapat selisih sebesar Rp4.339.440, dari anggaran untuk program pemberdayaan masyarakat desa peningkatan produksi tanaman pangan, senilai Rp103.779.440.

Sementara itu, dari penelusuran BENTENG SIANTAR, diketahui jika harga satuan bibit kelapa hibrida yang dibagikan oleh Pangulu Nagori Silau Bayu itu, dinilai terlalu mahal. Nah, lho.

Halaman Selanjutnya >>>

‘Untung Banyak’

Halaman Sebelumnya <<<

‘Untung Banyak’

Ditemui terpisah, Rizal, seorang pekerja salahsatu pembibitan di kawasan Siantar Sitalasari, Kota Pematang Siantar, mengatakan, bibit kelapa itu memiliki ragam harga. Menurut dia, harga ditentukan kualitas. Semakin bagus kualitas, semakin mahal harganya.

“Yang kita tahu, semahal-mahalnya kelapa hibrida, paling berkisar Rp30 ribu sampai dengan Rp50 ribu per pokok. Itu sudah yang bersertifikat,” terang Rizal, belum lama ini.

Sedangkan, harga kelapa hibrida yang tidak bersertifikat hanya berkisar Rp25 ribu per pokok.

“Abang rencana mau beli berapa? Kalau beli banyak, harga bisa miring,” timpal Mak Fino, seorang perempuan yang berada di tempat pembibitan yang sama.

Lebih lanjut, Rizal menerangkan, kalau bantuan itu merupakan program pemerintah, maka bibit kelapa yang disalurkan ke masyarakat wajib bersertifikat. Dan, satu-satunya pembibitan kelapa hibrida bersertifikat, itu berada di wilayah Kota Binjai, Sumatera Utara.

Dilansir dari kartani.co.id, sebuah situs web yang menyediakan bibit tanaman online, mulai dari bibit tanaman buah dalam pot (tambulapot), tanaman perkebunan, diketahui jika bibit kelapa hibrida seharga Rp25.000. Untuk diketahui, pembibitan itu dikelola CV Karya Tani Mandiri dan berlokasi di Binjai, Sumatera Utara.

Nah, merujuk data sebagaimana tertera dalam kartani.co.id tersebut, maka bibit kelapa hibrida yang disalurkan ke masyarakat Nagori Silau Bayu, dengan harga sebesar Rp100 ribu per pokok, sangat lah mahal. Terdapat selisih harga sebesar Rp75 ribu per pokok atau kemahalan harga sampai 300 persen.

BacaDugaan Korupsi Dana Desa, Rp1,3 Miliar Dipegang Sendiri Oleh Kades

BacaKorupsi Dana Desa, Kades Sei Dadap Divonis 4 Tahun Bui

Maka, patut diduga program pemberdayaan masyarakat desa peningkatan produksi tanaman pangan lewat pemberian bantuan bibit kelapa hibrida dan pupuk urea di Nagori Silau Bayu, Kecamatan Gunung Maligas, TA 2023, telah terjadi tindak pidana korupsi dengan kerugian negara sebesar Rp48.750.000.

Halaman Sebelumnya <<<